RENDEZVOUS
Cerpek Karya Ratih Fauziah

Kulihat sekelebat bayangan perempuan sederhana, berjalan cepat menuju rumah bambunya. Sebenarnya terlalu naïf kalau dikatakan rumah. Lebih tepatnya gubuk kecil. Kuberjalan mengendap mendekati gubuk milik perempuan paro baya itu. Sungguh asri dan bersih gubuk yang sedang aku amati selama hampir dua jam lebih. Walaupun sangat sederhana, indah untuk dipandang. Ada beberapa jenis buah dan bunga yang melengkapi keasrian gubuk tersebut. Hal itu menandakan sang pemilik adalah orang yang rajin dan menyukai keasrian. Hatiku berdebar hebat ketika melihat perempuan paro baya itu pulang dan masuk ke rumahnya. Ada perasaan aneh yang begitu membiru, merasuki relung-relung jiwaku yang kosong. Perasaanku terhadap perempuan itu begitu mengharu menyesak penuh ke dalam dada.

Sebenarnya perempuan itu menurutku belum begitu tua. Tetapi mungkin karena digerogoti oleh permasalahan juga pekerjaan yang terlalu berat, wanita paro baya yang masih tergurat jelas kecantikannya itu cepat sekali menua.
Sore yang mulai mendingin, ditambah mendung yang sejak siang menggalayut di atas persembunyianku, semakin mengiris luka dan asaku. Luka seorang anak yang tak pernah merasakan belai kasih seorang ibu. Yah, aku bagaikan burung-burung yang melintas di atasku, yang sudah tidak ingat lagi, siapakah orang tuanya. Siapakah yang telah melahirkannya. Bagaimana wajah yang pernah berjihad antara hidup dan mati ketika melahirkan orok laki-laki. Itulah aku, Bayu Samodra. Sekarang usiaku sudah 27 tahun. Sebentar lagi aku akan melangsungkan ijab kobul dengan dewi khayangan yang sengaja dikirim untukku.
Terdengar jelas di kejauhan, suara garengpung bersahutan menandakan sore akan segera diganti dengan malam. Aku berjalan pelan mendekati gubuk yang berpenghuni seorang perempuan paruh baya. Kutekan perasaanku yang mengharu biru, antara bahagia dan was-was, antara sedih dan marah, membaur dalam emosi yang aku sendiri tak tahu. Ketika kulihat burung-burung di langit mulai pulang ke sarang, ketika sore berganti senja, aku beranikan jari nan rapuh ini mengetuk pintu.
“Assalamualaikum!” sapaku diiringi angin senja nan dingin yang mulai turun. Hatiku bergetar tak karuan. Aku bingung dan salah tingkah jika harus berhadapan dengan perempuan yang ada di dalam gubuk itu. Kuulangi lagi salamku yang kedua, baru ada jawaban parau dari dalam gubuk itu.
“Waalaikumsalam!” jawab perempuan itu dari dalam gubuknya.
Kudengar suara alas kaki beradu dengan lantai tanah. Wanita itu berjalan untuk membuka pintu.
“Tu-tuan siapa, ada apa mencari saya?”
Perempuan itu menatapku penuh selidik. Matanya yang telah menua menyipit melihat keadaanku dari ujung ujung rambut sampai ujung kaki. Diperhatikannya dalam kecurigaan yang luar biasa.
Aku tak mampu berkata-kata, tak mampu berucap, mataku mulai panas. Ingin rasanya kudekap dan bersujud di depannya. Ingin rasanya kupeluk dan kuciumi telapak kakinya. Namun, aku hanya bisa berdiri seperti patung. Lidahku kelu, tak mampu ucapkan sepatah katapun. Aku gemetaran, seakan badanku tak bertulang. Inilah perempuan yang telah berjihad melahirkannku. Perempuan itu sama persis dengan foto pemberian mendiang bapak, setahun yang lalu. Wajahku dengan perempuan itu bagai pinang dibelah dua. Hanya yang membedakan aku laki-laki dan dia perempuan tua.
Kukumpulkan semua kekuatanku agar aku bisa menguak tabir misteri hidupku selama 27 tahun. Kutatap mata perempuan itu yang sejak tadi menatapku tak berkedip. Kami sama-sama berdiri di depan pintu gubuk itu. Jarak kami sungguh dekat. Ada kesedihan, ada kepedihan, kesakitan, di antara aku dan perempuan itu. Kesedihan yang terbalut dalam warna senja yang merindu.
“Ibu, maaf …! 27 tahun yang lalu, pernahkah Ibu melahirkan bayi laki-laki bernama Bayu Samodra. Kemudian bayi yang masih merah itu anda tinggalkan bersama popok dan botol susu di rumah Mbah Sukini?” tanyaku menahan perih, pilu, dan duka lara.
Mataku mulai panas menahan air mata. Lara, sakit, dan rindu membaur dalam kepedihan.
Tiba-tiba, perempuan paro baya itu beringsut mundur. Matanya terbelalak, mulutnya menganga yang segera ditutupinya dengan tangan kanannya yang mulai mengeriput, lalu jawabnya sungguh di luar dugaanku.
“Tidak, aku belum pernah punya anak, apalagi anak yang kutinggal di rumah Mbah Sukini, seperti ceritamu!” bentak perempuan itu dengan ketusnya sambil membanting daun pintu.
Aku tak dihiraukannya lagi. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Sebagai laki-laki ada larangan untuk menangis, namun aku tak kuasa untuk mencegahnya. Tiba-tiba saja tumpahlah air mataku. Masih di depan pintu yang tertutup dengan kasar, aku menangis, meratap dalam kesedihan. Masih kudengar perempuan itu berteriak dari dalam untuk mengusir aku.
“Pergi kau, sebelum aku mengusirmu dengan cara kekerasan!” teriak perempuan itu seperti kesurupan.
Aku bergeming, tetap berdiri di muka pintu gubuk bambu. Aku tak peduli dengan penolakan perempuan itu bahwa dia tak pernah melahirkan anak laki-laki bernama Bayu Samodra, karena aku yakin perempuan di dalam gubuk itu adalah ibuku. Aku terus berteriak dari luar.
“Ibu, aku adalah anakmu yang kau tinggal bersama popok dan susu di amben Mbah Sukini. Aku adalah Bayu Samodra, anak semata wayangmu yang sudah 27 tahun tidak pernah merasakan belai kasih sayang seorang ibu!” teriakku tersedu, “Aku adalah anak yang paling menderita di dunia ini. Pada saat anak-anak seusiaku disisir rambutnya, disuapi, diantar ke sekolah oleh bundanya, apa yang kudapatkan?” teriakku masih dalam tangisku. Tangis seorang anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya. Tangis pria dewasa yang menyesali semua kejadian di masa lalunya. Tiba-tiba perempuan paro baya itu bertriak dari dalam.
“Cukup … Cukup …! Jangan kau bunuh aku dengan kata-kata itu. Aku tak sanggup untuk mendengarnya. Aku bisa mati mendengar semua kata-kata itu!” teriak parau permpuan itu dari dalam gubuknya, sesekali kudengar sedu sedannya.
Aku tahu dia sangat sedih mendengar semua teriakanku. Aku nekat berteriak lagi dari luar agar seisi dunia tahu kalau aku adalah anak yang paling malang. Anak yang tak pernah merasakan belai sayang bundanya, agar perempuan itu segera keluar lagi membuka pintu dan memeluk aku.
“Tahukah Anda, bahwa selama 27 tahun, aku hanya hidup dengan bapakku. Aku dibesarkan oleh seorang laki-laki yang kini telah meninggal dunai,” masih dalam teriakku, “Da suamimu Bu. Dia bapakku. Selama 27 tahun tak pernah kudengar suara lembut seorang ibu, tak ada kasih sayang ibu di sana, tak ada belai lebut dari tangan seorang ibu!”teriakku.
Aku sudah tak sanggup berdiri. Aku terjatuh duduk di depan pintu gubuk itu. Kumeraung, menggila, aku sudah lepas kendali. Beban moralku selama puluham tahun yang terpendam tercurah di senja itu. Kerinduanku terhadap sosok ibu yang hanya bisa kupndang lewat foto, kini ada didepanku.
Aku bagaikan gelombang samodra bergemuruh tiada henti, bergolak menumpahkan semua kepedihan di hati. Badanku semakin lemah tak berdaya, dadaku sungguh sakit, bagaikan ribuan pisau menghujam ke dalam jantungku. Kupegangi dada ini, sakit luar biasa. Aku adalah tawanan perang yang kalah, terkulai lemah di depan gubuk bambu.
Tiba-tiba aku mendengar suara jatuh dari dalam gubuk itu. Aku berusaha melihat dari dalam lewat celah-celah jendela. Walaupun samar, aku melihat perempuan itu tersungkur dilantai tanah. Aku mengerahkan semua sisa-sisa tenaga, kudobrak pintu depan. Aku melihat permpuan itu pingsan. Kuangkat tubuh kurusnya, kubaringkan dengan hati-hati di amben rumahnya.
Tak berselang lama perempuan itu mengerang dan terbangun, mengerjapkan matanya yang telah mengeriput untuk dapat mengingat kejadian yang baru saja dia alami. Perempuan itu menoleh kepadaku. Air matanya menderas membasahi bajunya yang telah pudar warnanya termakan usia. Sambil mengusap air mata dengan ujung baju, perempuan itu berkata.
“Nak, aku tak pantas menyandang sebutan ibu!” kata perempuan itu dalam kesedihan.
Sunyi senja itu, hanya terdengar sedu sedan perempuan itu dan aku. Aku sungguh emosional menyaksikan penderitaan perempuan yang ada di depanku. Jelas tergurat dari keriputnya. Masih dalam tangisnya, perempuan itu melanjutkan ceritanya, “Sebutan ibu begitu agung dan terhormat di telingaku, Nak. Aku adalah wanita hina dan miskin yang tak pantas kauakui sebagai ibumu!”
Senja semakin menghitam, tatkala perempuan itu melanjutkan sedu sedan dalam pilunya. Menghela nafas dalam, lalu berujar dengan lirih.
“Melihat ciri-cirimu, aku yakin memang kamulah Bayu Samodra yang dulu saat berumur 40 hari kuitinggal di amben Mbah Sukini bersama dengan susu dan popoknya,” kata perempuan itu mengingat kejadian silam.
Membeku badanku penuh rasa haru mendengar pengakuan perempuan yang ada di depanku, bahwa dialah yang mempunyai orok Bayu Samodra. Pengakuan itu cukup membuatku bagaikan terbang di langit dan menari dengan seribu bidadari dari surga. Ada haru, ada pilu, ada bahagia di hatiku.
Kupeluk perempuan itu, kucium tangannya, kuhapus air matanya yang menetes deras dalam pipi keriputnya. Aku tak peduli kata orang dengan masa lalu ibuku. Aku tak peduli kata mereka bahwa ibuku adalah wanita nista. Aku menganggap ibuku adalah wanita yang terbaik yang telah diturunkan Tuhan ke bumi untuk melahirkanku. Aku telah memafkan semua salahnya, walaupun aku tidak tahu ibuku salah apa.
Kupeluk ibuku yang renta dan rapuh, kuhapus airmata kesedihan yang entah berapa ribu kali membasahi pipinya yang mulai layu dan berkeriput. Ibu jangan tinggalkan aku lagi.
TAMAT



