Memahami Sekolah Inklusi Bersama SMPN 2 Bandungan

Berbekal semangat dalam upaya mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, SMPN 2 Bandungan mengadakan In House Training (IHT) dengan Tema Pendidikan Iklusi, tanggal 21 dan 28 Oktober 2025. Diprakarsai oleh Kepala Sekolah, Bapak Merta Irawan, S.Pd., M.Kom, sekolah menghadirkan narasumber dari sekolah lain yang memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih, guru-guru belajar bagaimana melakukan adaptasi materi dan proses pengajaran kepada murid-murid yang membutuhkan penanganan khusus. Mereka juga belajar bagaimana menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung keterbatasan beberapa siswa tersebut.
Narasumber pertama adalah Ibu Kusmiati, S.Pd., guru SMPN Banyubiru 01, yang membagikan pengalaman saat menangani siswa berkebutuhan khusus. Materi yang beliau sampaikan adalah strategi pendampingan dan komunikasi efektif dengan siswa berkebutuhan khusus. Sementara itu, narasumber kedua, Bapak Agus Setyawan, S.Pd. Fis., memberikan materi tentang adaptasi teks dan bahasa dalam bahan ajar untuk siswa inklusif. Bapak Merta Irawan, S.Pd., M.Kom, selaku kepala sekolah juga memberikan materi IHT yaitu universal design of learning bagi siswa inklusi. Semua materi tersebut semakin lengkap dengan pemaparan materi dari Pengawas Sekolah, Ibu Tri Astuti Ari Winarti, S.Pd., M.Pd. yang memberikan gambaran umum tentang kebijakan pemerintah mengenai sekolah inklusif, sebagaimana tercantum dalam Panduan Sekolah Inklusif.

Semangat guru dalam belajar tentang hal tersebut didasari konsep sekolah inklusi yang mendukung keberagaman dan memberikan kesempatan kepada semua murid, termasuk yang berkebutuhan khusus, untuk belajar bersama. Kebijakan pemerintah yang mendasari sekolah inklusi bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah dan inklusif, yang sangat penting bagi perkembangan siswa secara keseluruhan.
Pelayanan iklusif ini juga berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV Pasal 5 ayat 2, 3, dan 4 dan Pasal 32 yang menyebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan (fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial) atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusi, baik pada tingkat dasar maupun menengah.
Dengan segala keterbatasan dan minimnya pengetahuan tentang pendidikan inklusif serta bagaimana menangani murid dengan kebutuhan khusus, guru-guru SMPN 2 Bandungan tetap menjalankan tugas membimbing anak-anak tersebut dengan baik. Berikut beberapa pengalaman guru dalam menangani murid yang terindikasi membutuhkan penanganan khusus.
Ibu Ela Purwanti, guru Seni Budaya, menuturkan pengalaman dalam menangani anak yang terindikasi slow learner dua tahun yang lalu. Murid tersebut sebenarnya mampu mengikuti pembelajaran di kelas seni budaya, hanya saja anak ini cenderung hanya menyukai satu hal yang dia mau. Bu Ela mengajarkan seni tari dan seni musik, ternyata sang murid hanya menyukai bidang seni musik. Akhirnya, dipilihkan assesmen yang sesuai dengan kemampuannya.

Beliau menggunakan metode belajar mandiri yang membuat murid itu nyaman. Anak tersebut belajar di perpus bahkan di gazebo senyaman dia, karena anak tersebut tidak mau bergabung dengan teman-temannya. Bahkan setiap pembelajaran kolaboratif, tidak pernah dapat kelompok karena dibagi kelompok pun anak tersebut tidak mau bergabung. Dengan perlakuan khusus, lama-kelamaan anak tersebut bisa lebih percaya diri dan bersedia mengikuti pembelajaran.
Ibu Wahyu Mardalena, seorang guru BK juga menyampaikan pengalamannya dalam mendampingi siswa tuna rungu untuk memperoleh penanganan yang tepat. Langkah yang diambil adalah berkomunikasi dengan orang tua. Awalnya orang tua tidak mau berkonsultasi dengan medis, karena dulu pernah diputuskan oleh salah seorang dokter, siswi bersangkutan harus operasi. Orang tua belum berani menerima keputusan itu. Akhirnya dengan mediasi dan komunikasi yang tepat, orang tua bersedia ke RS, dengan meminta pendampingan dari sekolah.
Sekolah mendampingi seluruh proses, melakukan kerjasama dengan puskesmas untuk mendapatkan rujukan, serta mengantarkan ke rumah sakit untuk cek berapa DB kemampuan dengar siswa. Bahkan sekolah juga mengantarkan membeli alat bantu yang dibutuhkan. Alhamdulillah dokter memberikan free konsultasi karena saat ke RS bertepatan dengan Hari Guru. Selama penanganan, teman guru yang lain juga membantu saat pembelajaran. Misalnya Pak Riza Sofyat, menanganinya dengan melakukan pendekatan personal. Beliau berusaha mengulangi perkataan yang sekiranya kurang dipahami. Beliau juga telaten mengkomunikasikan pada anak tersebut, bagian mana yang sudah dipahami dan yang belum.

Lain lagi dengan Ibu Dessy Kartika, pengampu mapel Prakarya. Beliau pernah menangani siswa di kelas 7 yang tidak bisa membaca dengan baik. Jika menulis tulisan dari papan tulis harus dibantu dan didikte temannya. Penglihatan dia juga kurang, sehingga membutuhkan bantuan kacamata. Suatu saat beliau praktek kerajinan bahan lunak dengan clay. Beliau membebaskan anak-anak untuk membuat kreasi sesuka mereka. Anak tersebut membuat gambar petir dan ombak, yang ternyata sama dengan gambar teman sebelahnya. Saat itu mereka maju bersama dan beliau melakukan wawancara tentang apa yang mereka gambar. Ternyata siswa tersebut menjadi lebih percaya diri karena gambar dia bisa sama dengan temannya yang tidak memiliki kelainan.
Hal yang cukup berat bagi guru, disamping anak berkebutuhan kkhusus, adalah adanya masalah sosial ekonomi yang kurang mendukung. Hampir setiap tahun selalu saja ada anak yang membutuhkan penanganan khusus. Baik yang tidak bisa membaca atau menulis, rendahnya motivasi belajar karena salah pergaulan, hingga anak-anak yang kurang diperhatikan oleh orang tua.
Contoh kasusnya adalah yang dialami Ibu Maryani, yang mengajar di kelas 9. Pada tahun 2013, pernah menangani seorang anak dari keluarga broken home, ibunya bekerja di hotel dan bapaknya entah kemana. Saat kelas 9 semester 2, anak ini hendak mengundurkan diri karena tidak ada dukungan dari orang tua. Akhirnya beliau mendampinginya dengan sukarela. Bahkan saat ujian anak ini dibangunkan, mandi pun dimasakkan air, dan baju seragam juga disiapkan. Berangkat sekolahnya ditunggu dan diajak bersama beliau. Alhamdulillah bisa lulus meskipun tidak melanjutkan dan entah bagaimana nasibnya sekarang.
Ada juga Pak Eko Indra Permana, mapel bahasa Indonesia, yang pernah mengajar murid yang spesial. Saat pembelajaran disamakan dengan teman yang lain, dia menghadapi kesulitan. Maka beliau menyisihkan waktu khusus dan memberi perlakuan khusus saat pembelajaran atau penyelesaian tugas. Beliau menganggap itu mungkin hanya hal kecil yang berubah, tetapi semangat motivasi belajarnya semakin meningkat.
Demikian juga dengan Ibu Morita, yang menangani murid spesial yang selalu enggan menulis. Beliau menahan siswa tersebut agar tidak pulang terlebih dahulu. Dia diminta mencatat sambil diajak ngobrol tentang kegiatan sehari-hari. Akhirnya menjadi termotivasi. Selain itu, beliau juga menangani siswa yang sering tidak bersemangat, pasif, dan mengantuk di kelas dengan diajak ngobrol empat mata. Ternyata siswa mau terbuka dan menceritakan jika memiliki masalah di keluarga. Dia merasa dibedakan oleh bapak kandung sendiri. Kemudian beliau tindak lanjuti dengan konsultasi dengan ibu melalui chat hingga menemukan solusi.
Kasus serupa dialami oleh Ibu Wine Ratnawati Wijaya, mapel bahasa Inggris. Beliau pernah menangani anak yang sulit membaca dan menulis dalam bahasa Inggris. Beliau melakukan pendekatan dengan membantu mendiktekan tulisan yang ada di buku dan di papan tulis dengan harapan bisa mengingat sedikit demi sedikit kata-kata dalam bahasa inggris.
Ibu Wahyu Hidayati yang mengajar Bahasa Indonesia juga berpengalaman membimbing siswa yang mengalami keterlambatan belajar (belum bisa menulis lancar dan membaca lancar). Alhamdulillahnya dia berada di kelas yang teman-temannya sangat mendukung. Ketika pembelajaran, biasanya anak-anak yang lain diberikan materi terlebih dahulu, baru diberikan tugas/proyek. Dan disaat itu beliau memanggil satu anak khusus ini untuk diajari menulis dari huruf dasar dan membaca hal-hal yang dasar/mudah.
Setelah diamati selama satu bulan, ternyata ada perubahan. Anak tersebut pelan-pelan bisa menulis dengan jelas meskipun belum cepat. Dan bisa mengerjakan soal dengan kalimat yang dasar (soalnya dibedakan dengan temannya).
Permasalahn motivasi belajar juga dialami oleh guru. Pak Anjaryadi menceritakan saat beliau menangani murid laki-laki kelas 8 yang memiliki masalah dengan motivasi belajar. Sering kali membuat masalah di sekolah, baik masalah yang besar (melebihi kenakalan anak pada umumnya), maupun yang kecil karena sudah tidak berminat sekolah. Sayangnya dia dipaksa ibunya harus tetap sekolah. Saat berbicara empat mata, ketemulah solusi yang terbaik untuk murid tersebut. Dia meminta ijin ke orang tua untuk mengundurkan diri dari sekolah karena sudah mendapatkan kerja diajak temannya. Akhirnya dia direstui oleh ibunya untuk mengambil keputusan tersebut. Hingga saat ini pun, murid tersebut sopan dengan selalu menyapa duluan saat bertemu di jalan.
Jalan hidup anak memang memang tidak bisa diprediksi. Banyak masalah yang muncul, baik karena adanya anak berkebutuhan khusus maupun masalah sosial ekonomi yang lain. Meskipun demikian, seluruh guru sepakat untuk menangani semua masalah dengan lapang dada. Tidak ada orang tua yang menginginkan anak dengan keterbatasan dan kenakalan. Hal itulah yang menjadi dorongan guru-guru dan memotivasi mereka untuk mencari berbagai cara dalam menangani murid-murid yang istimewa tersebut.



