BINTANG-BINTANGKU
Cerpen Karya ratih f wiedya


Untuk kesekian kali, Alvin keluar dari kamar, ketika seisi rumah sudah terlelap. Berjingkat dia menuruni jendela kamar. Pelan dia berjalan menuju taman samping rumah. Angin yang sangat dingin tak menyurutkan keyakinan Alvin tentang kembalinya sang bintang kejora. Sang bintang yang selama ini membuat Alvin meratap dan menangis. Sang bintang yang membuat Alvin tak lagi mempunyai semangat untuk mengejar mimpi. Mimpi-mimpi indah seorang bocah yang tak tahu akan kehidupan dewasa yang sangat kejam. Kala itu Alvin bermimpi meraih bulan dan bintang di angkasa. Kini mimpi indah tentang bulan meredup dan hilang. Seiring dengan hilangnya penyemangat hidupnya.
Hari-hari Alvin dihabiskan untuk menangisi dan meratap kepergian ibunya yang dia tak tahu di mana rimbanya. Sering dia bertanya pada bintang di malam hari, juga bertanya pada pohon-pohon di samping rumahnya, tentang keberadaan ibunya. Namun, semua yang ditanya hanya diam membisu. Alvin tak pernah menyerah dalam harapan dan keyakinan, bahwa suatu saat dia akan bertemu dengan ibunya. Alvin percaya bahwa bintang-bintang di langit yang ribuan jumlahnya itu, akan memberi kabar padanya. Kabar tentang perempuan yang paling di sayanginya untuk segera kembali.
Ditemani angin yang dingin di malam hari Alvin seperti biasanya mencurahkan isi hatinya dengan sang Ibu, meskipun Ibu tak ada di sampingnya.
“Ibu, ketika Ibu meninggalkan aku, pohon mangga ini masih kecil dan baru saja ditanam oleh Bapak,” gumam Alvin lirih, takut kalau ada keluarganya yang melihat keberadaannya malam-malam di taman.
“Dan sekarang lihatlah Ibu, pohon ini sudah membesar dan sudah mulai berbuah. Begitu juga dengan Alvin sekarang sudah SMP kelas 9,” lanjutnya sendu sambil mengusap bulir bening di sudut matanya.
Kembali Alvin menghapus air matanya. Sesekali ada isakan kecil tertahan. Angin semakin kencang meniup tubuh Alvin. Tubuh mungil itu mulai menggigil kedinginan. Dirapatkannya selimut kumal kesayangan yang dibelikan ibunya lima tahun yang lalu, saat dia masih duduk dibangku kelas 4 SD.
Kembali Alvin memandang bintang-bintang di angkasa dan melihat bintang yang paling terang. Dia menengadah lama untuk mencari bintang kejora. Tiba-tiba dia melihat bintang yang paling terang. Dia yakin bahwa bintang yang paling terang itu akan membantunya mempertemukan kembali dengan ibunya yang telah lama menghilang. Kemudian dia bicara lagi, seakan- akan ibunya ada di sana.
“Ibu, tahukah bahwa hari ini Alvin uUlang tahun yang ke-15? Tadi di sekolah sangat ramai. Teman-teman banyak yang memberi ucapan selamat, terlebih wali kelas Alvin. Beliau memberi hadiah sepatu baru. Sepatu yang telah lama kuinginkan, kuimpikan,” lanjutnya masih dalam isak tangis.
“Ibu tahu, kan? Alvin sekolah selalu berjalan kaki yang jaraknya lumayan jauh. Jadi sepatu yang dibelikan paman tiga tahun yang lalu sudah robek di bagian jempolnya,” bisik Alvin lirih hampir tak terdengar.
“Aku bahagia hari ini, walaupun ibu tak disisiku. Alvin janji mulai hari ini, aku akan lebih semangat lagi untuk mengejar mimpi. Mimpi meraih bulan bersama Ibu. Sekian dulu ibukku sayang, semoga besok malam kita segera bertemu. Aku akan tidur dulu, agar besok bisa sekolah pagi-pagi.” Alvin melangkah gontai masuk kembali ke kamar.
Lelap Alvin tertidur dalam dekapan selimut kumalnya, selimut terakhir hadiah dari Ibu. Sejak Ibu Alvin pergi meninggalkan rumahnya, Alvin sangat rindu. Rindu akan timpukan sandal ibunya, rindu teriakan ibu ketika Alvin belum mandi sore, ketika belum sholat. Rindu tangan lembut yang menyisir rambutnya kala berpamitan berangkat sekolah, rindu sayur sup dan tempe goreng bikinan ibu, rindu dan rindu semua tentang ibu.
Ketika pulang sekolah, kebiasaan Alvin berceloteh di samping ibunya. Sambil disuapi dia bercerita tentang temannya yang nakal. Temannya yang lucu. Teman-temannya yang selalu dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR dan banyak hal yang ditemuinya di sekolah.
Terlebih jika sedang dimarahi bapak, dia akan berlari mengadu pada ibu sambil terisak. Dan ibu dengan lembut penuh kasih akan menenangkan dia yang sedang ketakutan.
“Ibu … mengapa bapak sangat benci Alvin. Jika salah sedikit aku langsung dibentaknya. Mengapa Ibu?” kata Alvin terisak di pelukan ibu kala itu.
“Bentakan kecil itu tanda sayang Bapakmu, Nak!” kata ibunya sambil membelai ekor kuda rambut Alvin yang panjang tergerai.
“Nak, rambutmu sudah panjang. Bagaimana kalau ibu merapikannya sedikit?” kata ibu, mengalihkan pembicaraan tentang bapak.
“Mau, mau … aku mau dipotong rambutku seperti artis Korea itu lho, rambutnya pendek sebahu. Cantik banget lho, Bu!” seru Alvin kegirangan.
Ibu sangat pintar mengalihkan pembicaraan tentang bapaknya yang keras dan kasar. Ibu sangat pintar menyembunyikan semua permasalahan orang dewasa kepada anaknya. Anaknya tidak tahu, akan ada bom waktu yang segera meletus memporak porandakan biduk keluarga kecilnya.
“Nak, jika dipotong pendek kayak artis Korea, gimana bisa dikuncir tinggi kayak ekor kuda yang berponi. Kamu sangat cantik dengan gaya ekor kuda berponi,” rayu ibu.
Ibu tidak mau putri cantiknya mengikuti gaya artis luar negeri. Ibunya tidak mau gadis kecilnya tidak punya identitas diri. Jati diri sebagai orang timur dan wanita muslim yang selalu menutup auratnya.
Sejak dililit hutang bank harian, mingguan, bulanan, ibu Alvin tidak kuat dengan banyaknya tagihan yang hilir mudik mendatangi rumahnya. Dilihatnya ibu setiap hari menangis karena bertengkar dengan bapak. Alvin kurang paham, mengapa ibunya bisa terlilit hutang yang begitu besar. Dia juga tidak tahu, mengapa bapaknya sangat kasar dengan ibunya. Pukulan dan caci maki dari bapak adalah menjadi makan sehari-hari ibu.
Sampai pada puncaknya, malam-malam mereka bertengkar dengan hebat. Kemudian ibu masuk kamar mendekap tubuh kecil Alvin sambil menangis. Alvin hanya bingung. Dia ingin bertanya tapi takut salah. Kemudian dia tertidur dalam pelukan ibu. Ketika dia terbangun ibu sudah tidak di rumah. Dia mencari ke seluruh sudut rumah, tapi orang paling disayanginya itu tidak ada. Alvin berteriak, melolong, dan meratap memanggil nama ibu. Semua membisu dan sia-sia.
“Ibu … Ibu … !” Alvin terus berteriak memanggil ibunya.
Teriakan Alvin kini menghilang berganti dengan sedu sedan. Dunianya telah menghilang dan runtuh. Dengan pelan Alvin beranjak masuk ke kamar. Menanti dalam penantian yang tak berujung dan tak berkesudahan.
SELESAI
Pabelan, 12 November 2024



