DURIDAM (DUa RIbu DApat Makanan bergizi)

Oleh: M. Ma’ruf_SD Islam Istiqomah Ungaran

Gambar: Murid-murid sedang menikmati makan siang bersama
Program makanan bergizi atau yang lebih dikenal dengan istilah MBG, merupakan program makan siang gratis yang dicetuskan oleh pemerintah pusat untuk menekan angka stunting dan bertujuan membangun sumber daya unggul, menurunkan angka kemiskinan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Dalam mempersiapkan generasi emas 2045, pemerintyah berupaya mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dari bonus demografi yang dimiliki.
Bergulir sejak tanggal 6 Januari 2025, serempak di 26 provinsi Indonesia, program ini menargetkan siswa -siswi PAUD hingga SMA serta ibu hamil dan menyusui. Tahun depan, diharapkan MBG mampu mencakup penerima manfaat sebesar 82,9 juta penerima. Tak ayal program ini menjadi program yang memiliki julukan program dengan anggaran raksasa. Dalam pemenuhannya, pemerintah akan menggelontorkan dana sebesar 1,2 trilyun setiap hari, dengan perhitungan besaran sepuluh ribu rupiah untuk tiap sajian bagi masing-masing penerima.
Jauh sebelum program MBG bergulir, penyediaan makan siang telah lama berjalan bagi beberapa sekolah khususnya bagi sekolah swasta yang menerapkan pembelajaran hari penuh (full day). Berbeda dengan MBG yang diselenggarakan oleh Badan Gizi Nasional, makan siang yang diselenggarakan di sekolah sebelumnya tentu masih mengandalkan biaya mandiri oleh orang tua wali murid. Besaran dan ragam menu menjadi kebijakan sekolah masing-masing. Namun apakah semua pelaksana makan siang oleh sekolah selalu memberatkan atau menimbulkan pro kontra di dalam lingkungan sekolah. Tentu tidak. Slah satunya adalah penyelenggaraan makan siang bergizi oleh SDIT Qur’an Insan Mulia Kaliwungu Kabupaten Semarang.
Berada di ujung Kabupaten Semarang, tepatnya di jalan Simo-Boyolali Kebatan Gender Lor Kradenan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang, makan siang bergizi dirintis sejak sekolah berdiri yaitu pada tahun 2009 silam. Awal sekolah berdiri SDIT Quran Insan Mulia yang menerapkan full day school memulai perjalanan pemenuhan makan siang bergizi lewat kolaborasi bersama orang tua wali murid. Pada awal berdirinya, SDIT Qur’an Insan Mulia memiliki 12 siswa, yang pemenuhan makan siang siswa diselenggarakan oleh orang tua wali murid dengan sistem gilir atau piket sebanyak dua orang tua wali murid setiap harinya. Masing-masing orang tua wali murid dengan sukarela menyiapkan enam sajian satu hari setiap pekannya. Disamping sebagai wujud pemeliharaan rasa handarbeni oleh orang tuia wali murid terhadap keberlangsungan sekolah, tentunya makanan yang diadakan oleh orang tua wali murid lebih terjamin dari segi gizi dan kesehatannya.

Hingga kini, makan siang bergizi masih terus bergulir. Untuk mendukung realisasi program, sekolah menyediakan dapur makan siang yang dikelola oleh tiga tenaga pengolah di dalamnya. Berbeda dengan awal program ini dirintis, kini sekolah mengambil kebijakan untuk menghimpun iuran dari orang tua wali murid dalam pelaksanaannya. Setiap siswa dikenakan iur sebesar enam puluh lima ribu setiap bulan. Artinya, setiap siswa menerima makan siang bergizi sebanyak enam hari efektif setiap pekan selama satu bulan hanya dengan biaya sekitar dua ribu lima ratus rupiah per sajiannya. Biaya tersebut lebih murah dibanding sebotol air mineral enam ratus mililiter. Biaya tersebut merupakan hanya seperempat dari jumlah biaya yang dianggarkan oleh Badan Gizi Nasional yaitu sebesar sepuluh ribu setiap porsinya.
Lalu bagaimana SDIT Qur’an Insan Mulia mampu melaksanakannya? SDIT Qur’an Insan Mulia telah sukses dalam menerapkan pengelolaan sumber daya sekolah berbasis aset, salah satunya pada program makanan bergizi siswa. Harga terbaik yang ditawarkan sekolah adalah bentuk kesuksesaan sekolah untuk mampu memaksimakan berbagai stakeholder yang tersedia. Dalam pemenuhan bahan pokok makanan bergizi berupa sayur, daging, lauk pauk, hingga bumbu, sekolah memberdayakan pihak orang tua wali murid dan masyarakat sekitar. Kebutuhan seperti beras, minyak, dsn gula diprakarsai oleh koperasi milik sekolah. Alhasil, dua ribu lima ratus rupiah tidak menghasilkan produk makan siang yang seadanya, namun syarat gizi dan diminati oleh siswa. Dengan harga tersebut sekolah mampu menyajikan aneka menu seperti chicken karage, sayuran, lele goreng, bakso, hingga kerupuk dan sambalnya.
“Kalau menunya suka, anak-anak sering nambah dua sampai tiga kali. Kalau begitu biasanya gurunya yang mengalah.” Imbuh Rahma Luthfia Kepala sekolah SDIT Qur’an Insan Mulia yang akrab disapa Ustadzah Fia sambil tertawa. Selain berhasil menghadirkan makan siang bergizi dengan harga terbaik, makan siang ini juga bertujuan untuk melatih kedisiplin, tanggung jawab, dan kemadirian. Siswa merawat dan merapikan alat makan secara mandiri sebelum dan sesudah digunakan.



