EDELWEISS BERSEMI DI GUNUNG RINJANI

Oleh: ratih f wiedya

Edel terus saja memantengi gawainya, seraya tangan terus menekan keyboard. Serius sekali tampaknya. Dia tak tahu kalau ada sepasang mata lentik terus mengawasinya dari balik pintu kamar. Pemilik mata lentik itu Tia namanya. Edel dan Tia bersahabat sejak di bangku kuliah sampai sudah bekerjapun mereka masih saja menempati rumah kost yang sama.
“Del, serius amat. Emang browsing apaan!” seru Tia. Sambal merebahkan badannya di sisi Edel, di tetap fokus denga gawanya, tak bergeming. Tia melirik isi gawai Edel, dan reflek menutup mulutnya. Matanya terbelalak nafasnya naik turun kayak orang habis lihat setan. Tia kaget setengah mati, kemudian merapatkan badannya ke Edel. Rasa keponya semakin menggebu bak rudal balistik yang kini sedang ramai diliput para wartawan seantero dunia.
”Ah, sejak kapan dia punya hobby naik gunung. Seingatku dia tak pernah naik gunung.” Tia kembali berkernyit dan bingung. Ribuan pertanyaan bagaikan lebah yang beterbangan mengelilingi kepalanya yang memang baru pusing karena masuk angin.
“Kenapa ini kepalaku, Del, pusing banget!” seru Tia memijit kepalanya. Edel hanya nengok sebentar, kemudian fokus lagi.
“Oh, aku tau mengapa dia mau muncak Rinjani. Pasti … hem pasti, penyebab Edel naik Gunung Rinjani karena dia belum bisa move on dengan masa lalunya.” Tia garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
‘Ya sudahlah, Del. Lanjutkan, kalau itu yang bisa membuat kamu bahagia. Semoga kamu menemukan apa yang selama ini kamu cari di Gunung Rinjani.’ Seolah Tia bicara dengan dirinya sendiri. Karena kehadiran Tia tak dihiraukan Edel. Kemudian balik kanan menutup pintu kamar Edel.
Dua hari lama perjalanan yang ditempuh Edel dari Semarang menuju basecamp Sembalun. Salah satu basecamp menuju puncak Rinjani. Basecamp Sembalun merupakan basecamp terfavorit bagi para pendaki. Why? Disamping tracknya lebih bersahabat, juga di sana banyak penjual makanan sepanjang track menuju puncak Rinjani. Sehingga pendaki tak perlu takut kehabisan bekal.
Jika pendakian di bulan bulan kemarau, bc Sembalun ramai sekali dengan pendaki dari seluruh dunia. Dengan ras yang bermacam-macam dan bahasa yang beragam, tujuan mereka satu. Menikmati keindahan dan keseruan track di Rinjani. Jadi slogan para pendaki adalah jangan mati dulu kalau belum memeluk puncak Rinjani..hehehe.
Edel mengikuti open trip yang diselenggarakan oleh suatu organisasi yang berkantor di Basecamp Sembalun. Dia bertujuh dipandu oleh seorang pemandu dan dua orang porter. Kebetulan kelompok Edel semua cowok dari seluruh penjuru tanah air, hanya Edel yang perempuan. Dasar Edel. Dia tidak pernah takut dengan makhluk yang namanya cowok, karena dia pemegang sabuk Hitam taekwondo. Terbiasa dengan dunia cowok yang keras. Walaupun begitu Edel tetap feminin, cantik, putih, bersih, dan kyut kayak boneka Barbie. Tak heran banyak kaum cowok yang terpesona dengan kecantikannya. Namun, cinta Edel yang suci telah patah, hancur berkeping keping ditiup angin karena sebuah penghianatan. Dia menjadi perempuan yang apatis dan tak percaya pada semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Sebelum pendakian dimulai mereka berkenalan dengan porter dan pemandunya. Suasana cair banget karena kelakuan Edel yang kocak dan menggemaskan. Ditambah tingkah laku pemandunya yang tak kalah kocak. Dia memperkenalkan diri sebagai Deo Novandra. Lelaki ganteng dan atletis, cara bicaranya santun dan cerdas serta ceplas-ceplos lucu. Serasi dan klop dengan gaya Edel yang semau gue.
Perjalanan pendakian dimulai dari bc Sembalun naik mobil bak terbuka. Ketujuh pendaki dan satu pemandu bercanda lucu, tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai pintu pos pendakian, yaitu Kandang Sapi. Sedangkan dua orang porter atau orang yang bertugas membawakan barang barang dan keperluan para pendaki. Mereka berjalan kaki dengan ciri khas mereka menuju camp area di Plawangan 4 yang melewati 9 pos pendakian. Mereka masing-masing memikul dua keranjang, membawa spiker active yang terus mendendangkan lagu lagu kesukaan para porter. Kuat sekali mereka.
Sampailah rombongan Edel di Kandang Sapi. Mereka turun berlompatan dengan tertib. Tak lupa mereka mengabadikan pintu gerbang dengan tulisan besar Kandang Sapi, sebuah icon pendakian yang membanggakan bagi pendaki yang pernah menjejakkan kakinya di Rinjani.
Lanjut dengan naik ojek, dari kandang sapi menuju pos 2. Dengan tarif 250k perorang. Dengan naik ojek memperpendek waktu pendakian. Kalau jalan kaki ditempuh dalam waktu 6 jam sampai pos 2. Dengan naik ojek hanya setengah jam saja sampai pos dua.
Dalam perjalan naik ojek, Edel terkagum dengan semua pemandangan yang dilewatinya. Dia selalu mengabadikan semua yang dilihatnya dengan kamera Niconnya. Sungguh indah sabana khas daerah timur Indonesia. Banyak sapi yang dibiarkan berkeliaran di sabana, bahkan kadang juga ada kuda-kuda liar yang ikut nimbrung di sana. Edel begitu terpesona dengan itu semua. Dia terus bertanya dengan segala kelucuannya pada abang ojek di Gunung Rinjani.
Hari semakin sore. Malam akan segera menyambut kesunyian. Suara burung burung ramai di Plawangan 4. Banyak sekali camp yang telah berdiri di sana. Termasuk tenda kelompoknya Edel telah berdiri dengan megah. Tugas porter disamping membawakan barang juga mendirikan tenda dan memasak makanan untuk para tamu. Mereka telah sampai di camp area. Setelah melakukan pendakian dari pukul 09.00, sampai Plawangan 4 pukul 17.15, segera mereka makan malam dan ganti baju yang bersih untuk segera beristirahat, karena pukul 01.00 dini hari akan melekukan summit atack. Menaklukan puncak rinjani, melintasi undak-undakan berpasir, melewati jalan sempit, dan terakhir melintasi track berpasir yang terkenal dengan leter E yang begitu melegenda dan iconis.
Malam itu Edel tidak bisa tidur. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh di sekitar camp area. Ada suara perempuan yang nembang bahasa Jawa. Karena Edel orang jawa. Dia paham dengan lagu itu. Sementara di camp lain, pendaki-pendaki bule masih melantunkan musik regae irama latin. Edel semakin bingung dengan suara tembang itu yang sangat lirih masuk ke dalam rongga jiwanya. Malam itu seharusnya Edel terlelap dalam pelukan malam gunung Rinjani. Karena badan sudah sangat penat dan lelah, setelah seharian melakukan pendakian. Dicobanya membaca Al Quran , agar pikirannya segera tenang dan dapat tidur, tapi semakin terpejam semakin dia gelisah.
“Kak Deo, Edel nggak bisa tidur!” Edel menghubungi Deo lewat HT berharap Deo menemaninya dalam malam yang dingin dan penuh dengan kemistisan.
“Ya, Edel, keluarlah! Kakak berjaga didepan tendamu. Ayo kita merapat ke bapak-bapak porter mengitari api unggun! Balas Deo dengan lembut dan penuh perhatian.”
Kemudian Edel segera keluar dari tenda dan benar sekali, kak Deo menjaga siap siaga di depan tendanya. Segera Deo menarik lengan Edel untuk bergabung dengan porter dan pendaki lain yang malam itu tidak bisa tidur.
Dalam bekunya dingin Plawangan 4, serta ramainya bule, Edel berjalan mengekor Deo. Kemudian doi semakin merapatkan jaketnya dan penutup kepalanya.
“Kak Deo. Adel mau cerita, mau dengerin, nggak!” kata Edel dengan nada gelisah.
Deo yang duduk di sebelah Edel melihat ada ketakutan di wajah Edel. Segera Deo menggenggam jari-jari Edel agar dia lebih tenang.
“Ceritalah Del, jika itu membuat kamu tenang!” kata Deo yang semakin memperat genggamannya. Jari-jari tangan Edel begitu beku, sedingin es. Deo berharap dengan terapi itu akan memperlancar aliran darah Edel dan tidak beku lagi.
“Kak, tadi di dalam kemah aku mendengar suara perempuan yang nembang lagu jawa. Aku . aku, tidak takut, hanya gelisah dan bingung saja dengan kejadian yang aku alami.” Edel bercerita tentang kejadian yang dialaminya, sambil membiarkan tangannya digenggam erat oleh Deo. Dia merasakan ada kehangatan, ada kenyamanan berada di samping guidenya.
Edel melanjutkan ceritanya, “ Aku tak takut dengan hal mistis Kak. Tapi kali ini aku gelisah banget.” Wajah Edel yang putih bersih semakin memucat karena kurang istirahat.
Deo agak kaget, tapi ditutupinya kegalauan hatinya, agar Edel tidak ikutan gelisah. “Edel itu hanya halusinasimu,” kata Deo mencoba menentramkan hati Edel. “Tenang saja Del, di sini ada Kak Deo yang siap siaga untukmu 24 jam nonstop!” kata Deo sambil mencolek hidung Edel yang memerah karena beku gunung Rinjani. Edel tersipu malu dengan perlakuan Deo.
Edel semakin nyaman berada di dekat Deo Novandra. Dia melupakan kejadian mistis yang baru saja dialaminya. Ada debar-debar halus di hati Edel ketika berdekatan dengan Deo. Dia tidak tahu arti semua debaran itu. Mereka berdua terus berbincang, kadang tertawa, kadang ada air mata yang menetes di pipi Edel, yang selalu dihapus oleh Deo. Edel berjanji pada Deo tak kan ada lagi air mata yang membasahi pipinya. Mereka kemudian beranjak untuk bersiap mengikuti summit attack karena waktu sudah semakin larut.
Tepat pukul 01.30, seluruh rombongan sudah siap dengan alat pendakiannya. Siap secara fisik dan mental untuk melakukan summit atack Gunung Rinjani. Tak lupa para porter telah menyajikan masakan untuk rombongannya. Agar mereka kuat saat melakukan pendakian ke puncak Rinjani. Deo memberikan briefing secara terperinci. Kemudian mereka berdiri melingkar dan memanjatkan doa.
“Summit atack dimulai. Bismillah!” seru Edel “Ya, Allah. Kuatkan aku, lindungi aku dari segala marabahaya, tuntun aku untuk menggapai puncak Rinjani. Aamiin”
Dengan headlamp terpasang rapi, tampak rombongan pendaki di jalur pendakian seperti obor yang berkelipan jika dilihat dari kejahuan, indah sekali. Namun, nyatanya mereka sedang melakukan sebuah proses bagaimana cara menekan ego diri, menguatkan semangat diri dan orang lain, memberi support baik tenaga maupun kata -kata yang berisi penyemangatan, agar kelompok mereka bisa memeluk puncak rinjani tepat waktu, dan bisa pulang dalam keadaan selamat.
Jalur pasir berundak telah lewat. Jalur setelah Plawangan ini sangat berat, karena pasirnya halus dan menanjak serta berundak. Panjang track seperti ini bisa ditempuh 2 jam-3 jam. Edel terlihat semakin pucat dan nafasnya memburu. Deo dan kawan-kawan terus memberi semangat agar Edel kuat. Mereka secara bergantian menarik tangan Edel atau menyuruh Edel menarik jaket mereka. Motto pendaki jika berangkat bersama harus pulang bersama.
Akhirnya, icon Rinjani terhampar nyata di depan mata, LETTER E. Tepat pukul 05.00 mereka tiba di awal pendakian letter E. Matahari telah menampakkan dirinya dengan malu-malu. Deo semakin kuatir dengan keadaan Edel yang semakin payah.
“Edel, jika tidak kuat. Beristirahatlah di sini. Kakak akan terus menemanimu hingga kamu bisa memeluk puncak Rinjani,” kata Deo seraya menyalakan rokoknya. Deo semakin kuatir dengan keadaan Edel yang semakin dingin dan pucat. Deo merapatkan duduknya disamping Edel. Dicopotnya jaket tebalnya untuk menutup tubuh Edel yang menggigil kedinginan. Sementara, keenam cowok teman kelompok Edel disuruh naik ke puncak duluan.
“Tinggalkan aku saja, Kak. Aku menunggu kalian di sini. Aku mau istirahat dan tidur sebentar. Semalam aku tidak tidu. Kemarin dalam perjalan Semarang Rinjani, aku juga tidak tidur,” kata Edel dengan suara yang sangat lemah. Kemudian tertidurlah Edel dalam pelukan dinginnya pagi gunung Rinjani. Kepalanya bersandar di pundak Deo yang tetap stay di samping Edel dan memeluknya erat.
Dalam sunyinya pagi dan teduhnya wajah Edel yang tidur, tiba-tiba Edel bangun dan menjerit. Wajahnya ketakutan, matanya terbelalak seperti melihat sesuatu. Deo dengan sigap memnenangkan Edel. Didekapnya Edel erat-erat, sambil terus memanjatkan doa pada Tuhan. Edel pingsan. Deo mencoba memberikan pertolongan dengan berbagai cara. Akhirnya Edel siuman dan bercerita, bahwa dia baru saja merasakan jatuh ke jurang di tepi danau Rinjani. Dan di sana dia melihat banyak sekali makhluk pucat yang mencoba menyerang dirinya.
Makhluk itu mengatakan, “Kamu adalah tumbal Gunung Rinjani.” Edel bercerita sambil matanya seperti ketakutan. Dia memeluk Deo erat-erat.
“Kak Deo, jangan tinggalkan aku! Bawa aku sampai puncak, Kak! Aku akan mengalahkan mereka. Aku tetap akan memeluk puncak Rinjani. Aku tidak peduli dengan setan-setan itu,” kata Edel penuh semangat dan bangkit melangkah pelan.
Deo sangat bersyukur akhirnya Edel bersemangat lagi menuju puncak. Deo terus di belakang Edel dan terkadang berposisi di depan untuk menarik tangan Edel yang kehabisan tenaga.
“Tentu, Del. Ayo semangat. Kamu harus kuat. Ingat, hidupmu lebih pahit dari ini semua. Kamu harus jadi pemenangnya. Kamu harus bisa mewujudkan mimpimu menggapai puncak Rinjani!” seru Deo mengobarkan semangat perjuangan pada Edel.
Setiap sepuluh langkah, Edel selalu mengeluh tidak kuat, sehingga Deo berinisiatif untuk menggendongnya, agar Edel bisa menggapai puncak Rinjani. Edel tertidur dalam gendongan Deo sang guide. Fisik Edel sudah begitu lemah. Psikisnya juga sudah drop karena banyak gangguan makhluk astral.
Edel membuka mata. Dilihatnya Deo masih setia di sampingya. Dia dibiarkan tergeletak di pasir puncak Rinjani beralaskan tas punggung Deo. Kemudian mata Edel melihat tulisan besar pada sebuah plang papan, puncak rinjani 3784 MDPL. Seketika Edel bangun dan sujud syukur menangis tersedu.
‘Kak Deo, dengan apa semua pengorbananmu kubalas. Tak akan ada materi yang bisa membeli kasih sayangmu, tanggung jawabmu, dan kebaikanmu. Ternyata di dunia ini ada lelaki yang peduli dan sangat baik sepertimu, Kak.’ Edel terus meneteskan air mata dalam pelukan Deo.
Deo mendongakkan kepala Edel. Mengusap air mata Edel penuh cinta dan kasih sayang. Edel merasakan ada kehangatan dalam pelukan Deo. Ada cinta dalam mata Deo yang teduh. Edel tak mampu menatap Deo terlalu lama. Karena ada rasa yang berbeda dalam kalbunya. Edel gemetar bahagia dalam pelukan Deo. Edel terdiam dalam linang air mata bahagia.
“Edelweiss, sejak awal aku melihatmu, dan setelah aku mendengarkan kisahmu, tentang pernikahaanmu yang gagal, aku sudah yakin kamulah jodohku. Kamulah perempuan yang akan meneruskan keturunanku. Kamulah yang cocok bersanding denganku untuk mengarungi hidup di dunia ini. Terimalah pinanganku ini, Edel. Terimalah bunga Edelwiss ini sebagai pengikat cintaku. Deo melepaskan pelukannya dan berjongkok di hadapan Edelwiss sambil memberikan seikat bunga Edelweis.
Edel mengangguk pelan, air mata bahagia membanjiri pipinya. Disaksikan angin yang bertiup dingin di puncak Gunung Rinjani. Semuanya ikut bernyanyi, menyanyikan lagu cinta edelweiss yang sedang bersemi.
Lopait, 18 juli 2025
TULISAN INI KUPERSEMBAHKAN UNTUK DIRIKU SENDIRI DI HUTKU YANG KE 55 tahun



