Menguatkan KOMPETENSI Guru Bahasa Inggris untuk Pembelajaran Bermakna Berbasis Literasi Digital


Ambarawa, 11 November 2025 – Kegiatan workshop literasi untuk Guru Bahasa Inggris dilaksanakan di SMPN Negeri 2 Ambarawa, hari Selasa, 11 November 2025. Dalam kegiatan ini, 97 dari 103 peserta yang diundang, menghadiri kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh Seksi Kurikulum dan Kesiswaan, Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Semarang. Dewi Nirmala, Kepala Seksi Kursis SMP, menyampaikan bahwa workshop ini merupakan kegiatan bidang bahasa dan sastra terakhir dari Seksi Kursis. Harapannya, workshop ini dapat meningkatkan kemampuan literasi guru bahasa Inggris yang dampaknya adalah peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris di Kabupaten Semarang.
Plt. Kepala Disdikbudpora Kabupaten Semarang, Budi Riyanto, menyampaikan bahwa Bahasa inggris memiliki peran yang sangat dalam memberikan bekal pada peserta didik untuk kehidupan yang akan datang. Penyajian pembelajaran Bahasa Inggris hendaknya disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik, baik itu dalam tingkatan literasi, performatif (kemampuan membaca dan menulis dasar), literasi fungsional (kemampuan menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari), maupun literasi informatif (kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami, dan menggunakan pengetahuan yang lebih kompleks), serta literasi epsitemik (mentransformasi dan mengembangkanpengetahuan baru). Beliau berpesan kepada narasumber untuk menyampaikan pengetahuan mengenai literasi yang seluas-luasnya dan perlu juga banyak diskusi. .
Materi pertama, Stengthening Teachers’ Literacy Competencies for English Language Teaching, disampaikan oleh Nur Mutmainnah, M.Pd. Dosen UIN Salatiga. Beliau menekankan bahwa literasi tidak hanya tentang membaca dan memahami teks saja, tetapi juga kemampuan menganalisis dan mengevaluasi teks. Mengapa Kementerian Pendidikan memberikan perhatian yang cukup tinggi untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Alasannya adalah skor PISA yang turun, meskipun rangkingnya meningkat. Berdasarkan analisis mendalam, ini merupakan dampak dari masa pandemi Covid-19, yaitu adanya learning loss serta pembelajaran daring yang masih membutuhkan adaptasi. Penyebab lain adalah penggunaan teknologi yang kurang bijaksana, khususnya AI (kecerdasan artifisial), kurikulum yang kurang mendukung dan lemahnya kerjasama antara orangtua dan guru yang dalam mendukung penguatan literasi di sekolah.
Pada awalnya, istilah literasi, dalam beberapa kamus, didefinisikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Sekarang ini, ketika literasi sudah melebar ke berbagai bidang, literasi diartikan sebagai being knowledagable (berpengetahuan). Dalam Dalam studi literasi baru, literasi punya sosial konteks. Literasi menempatkan kegiatan membaca dan menulis pada konteks sosial. Pada perkembangannya, literasi juga tidak lagi hanya menggunakan teks cetak saja, tetapi sudah menggunakan multimoda; audio, visual, dan sebagainya. Ketrampilan yang diperlukan oleh guru dalam menguatkan kemampuan literasi adalah kemampuan dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung penguatan literasi siswa. Kedua, kemampuan untuk merancang, mengajar, dan mengevaluasi pengajaran Bahasa dengan memasukkan kompetensi literasi dalam pembelajaran. Terakhir, kemampuan untuk membiasakan diri dalam praktik literasi dalam kehidupan sehari-hari (merancang media pembelajaran Multimoda, menulis blog, dll).
Materi kedua, ICT dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Dr. Arif Suryo Priyatmojo, S. Pd., M. Pd., menguraikan tentang integrasi teknologi komunikasi dalam pembelajaran. Beliau menyampaikan tentang bagaimana teknologi dapat mendukung guru bahasa Inggris dalam menguatkan literasi pada pembelajaran. Dalam sesi kedua, guru juga diajarkan untuk membuat desain pembelajaran berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Beliau menekankan untuk mengajar siswa SD dan SMP harus fokus pada speaking bukan listening, reading, atau writing. Sedangkan untuk siswa SMA, fokusnya adalah Reading, untuk mahasiswa baru fokus pada writing.
Ada seorang peserta bertanya Apakah mungkin bagi siswa JHS untuk mengikuti tes standar dan bagaimana cara menilainya? Pak Arif menyarankan untuk merujuk pada buku Language Assessment: Principles and Classroom Practices oleh H. Douglas Brown yang menjelaskan tentang cara mengukur kemampuan siswa bahasa Inggris.Topik berikutnya adalah penggunaan mobile device yang dapat membantu pembelajaran. Disampaikan dengan jelas mengenai definisi, bentuk, ciri dan pemanfaatan mobile device.

Beberapa peserta workshop memberikan testimoni mengenai kegiatan ini. Maya Ayuandika dari SMPN 2 Suruh menyampaikan bahwa workshop hari ini sangat memotivasi. Kita sebagai guru terkadang hanya fokus pada kekurangan literasi siswa, padahal sebenarnya ada banyak faktor mengapa literasi di sekolah-sekolah begitu minim. Kurangnya lingkungan belajar yang mendukung literasi, budaya literasi guru yang masih kurang, bahkan pembelajaran yang kurang menarik dan variatif bisa menjadi faktor utama. Beliau menghimbau pada rekan guru, untuk mulai berbenah sedikit demi sedikit. Mulailah menjadi guru yang menyenangkan dengan membuat bahan ajar yang menyenangkan pula, agar siswa juga merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Selain itu, guru hendaknya memaksimalkan potensi kita sebagai guru untuk berkarya. Guru tak harus bekerja sendiri, tetapi bisa bekerjasama dengan guru lain dalam membuat buku baik fiksi maupun non fiksi.
Tri Wahyuningsih, SMPN 2 Bergas, menuturkan bahwa workshop ini sangat penting bagi guru dalam memahami makna literasi kemudian bisa merancang pembelajaran yang bisa meningkatkan literasi siswa. Menyadari masih minimnya literasi siswa kita, guru perlu menyiapkan multimoda teks untuk penguatan literasi siswa. Hadi Al Anam, guru SMPN 5 Ungaran menambahkan bahwa workshop ini merupakan ajang sharing antar sesama guru tentang kegiatan literasi di sekolah masing-masing. Guru juga bisa belajar kembali tentang perkembangan literasi lewat narasumber yang handal. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan wadah silaturahmi dan refreshing guru untuk menemukan hal-hal baru dari narasumber maupun dari sesama peserta. Beliau merasa, workshop ini sangat bermanfaat, khususnya untuk membantu pemerintah meningkatkan rangking PISA.
Di penghujung acara, ada penjelasan mengenai RTL kegiatan Workshop Literasi, setiap peserta diminta untuk membuat sebuah desain pembelajaran berbasis literasi dan digital. Selanjutnya, kegiatan ditutup oleh Kasie Kursis SMP, Dewi Nirmala Aggarini, yang berpesan bahwa ilmu tentang literasi yang sudah dipelajari hari ini hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh guru untuk meningkatkan literasi siswa.



